Pekat hingga Akhir di Kedai Semampir

Kenikmatan minuman di kedai ini tidak berkurang meski jam berlalu dan es mencair.
TAK ubahnya rute Sadang – Purwakarta, Jawa Barat, setelah dibangunnya Jalan Tol Cipularang, Jalan Raya Semampir kini tak seramai dahulu. Ketika itu, Semampir merupakan salah satu jalan utama di Kota Surabaya. Namun, sejak keberadaan jalur lingkar luar Surabaya, pengendara lebih suka melalui jalur tersebut.

Saat melewati ruas Jalan Semampir itu, Minggu (23/11) malam, suasana terlihat lengang. Namun, di satu sudut, tepatnya di Jalan Raya Semampir 37 Kav 6E, banyak motor terparkir. Ada riuh tawa keluar dari dalam bangunan berlampu redup. Itulah Kedai Semampir. Berdiri sejak 25 Januari 2013, kedai tersebut le bih banyak menjajakan minuman. Ascar Darwis Upadi, sang pemi lik, menceritakan dari dulu, bersama Riza Arifandi dan Resna Satriansyah, sahabatnya, mereka gemar jalan-jalan men cari kopi.Ketiga pecinta kopi itu gemas sekali dengan kafe-kafe yang mematok harga selangit untuk secangkir kopi.

“Harganya tinggi, padahal negara kita penghasil kopi,“ sesal Ascar. Maka begitulah, mereka bertekad membuat kedai yang menjual kopi dengan kemasan tradisional dan harga terjangkau. Setelah mereka belajar kepada teman yang paham soal dunia kopi, Kedai Semampir pun didirikan. “Kami juga riset ke restoran-restoran,“ imbuh lelaki lulusan teknik elektro yang sebelumnya tidak punya pengalaman se di bidang kuliner itu.

d Meski mulanya fokus pada kopi Nusantara, banyaknya permintaan pelanggan mendorong mereka menye diakan jenis minuman lain. Kini, lebih dari 40 jenis minuman bisa dipilih.

Bila melihat daftar menunya, rasa geli campur heran pun muncul. Lihat g saja istilah mereka untuk secangkir sa kopi jahe, yakni `kopi terjahekan.’ Begitu kop pula dengan `kopi tersusukan bersama es batu’ untuk sajian kopi dingin ditambah batu susu. Nyeleneh sekali! susu Membuka pengalaman ngopi di Kedai M Semampir, Media Indonesia memilih kopi Sem wamena dari daftar kopi dalam negeri.

Meski kami tidak memesan kudapan manis, kopi itu disajikan dengan sepotong biskuit cokelat. Untuk peminum kopi yang tak suka memasukkan gula ke dalamnya, kudapan ekstra itu merupakan cara paling tepat menikmati secangkir kopi wamena yang pekat dan pahit.

Setelahnya, kopi kudus yang beraroma kuat menjadi pilihan. Kopi itu sudah terasa sedikit manis meski tanpa tambahan gula. Jika diamati, rasanya memang mirip dengan jenang, kudapan tradisional yang banyak ditemukan di Kudus.

Selain kopi wamena dan kudus, di Kedai Semampir tersedia kopi lampung, bali, toraja, aceh, flores, dan sidikalang.Harganya Rp7.000-Rp9.000 saja. Itu jelas jauh lebih murah ketimbang yang ditawarkan di kafe-kafe ternama.

Keunikan minuman yang diracik di Kedai Semampir paling terasa bila Anda memesan minuman di ngin dengan es.

Jika biasanya lama-kela maan rasa minum an akan berkurang karena es yang mencair, hal itu tidak terjadi di kedai tersebut.

Benar saja, minuman `cokelat bersama es batu’ alias cokelat es yang jadi andalan Kedai Semampir tetap terasa pekat ketika disesap 1 jam kemudian.Harga segelas cokelat es Rp9.000 saja.

Begitu pula yang terjadi saat mencicipi strawberry squash dan ocean blue squash.Soal rasa yang konstan dari awal sampai akhir itu, Ascar mengaku didapat dari riset berulang-ulang.

Ascar mengaku mulanya mereka juga mendapat keluhan dari pelanggan soal rasa minuman yang berubah akibat es mencair. Lantaran sejak awal kedai itu diniatkan menjadi tempat orang berkumpul, komposisi minuman pun diubah agar tetap nikmat hingga akhir.Tak bisa sendiri Di sudut kanan daftar menu Kedai Semampir, tertulis kalimat You’ll never drink coffee alone. Menghabiskan waktu di kedai itu, relevansi kalimat memang dapat dipahami.

Meski Anda datang sendirian, pada akhirnya para pengelola kedai dan pengunjung takkan membiarkan Anda sendirian. Selalu ada yang menyapa, tanpa segan mengenalkan diri, hingga mengenalkan kawanan mereka.

“Di sini memang enggak bisa sibuk sendiri,“ ujar Ascar yang mengaku sejak awal memilih konsep kedai yang `hangat’.

Dia melihat berkat merebaknya media sosial (medsos) di dunia maya, ada kecenderungan orang sulit bicara terang-terang an secara langsung. “Enggak bisa gitu, akhirnya tetap saja sosialisasi yang nyata itu bukan di dunia maya,“ tandasnya de ngan tekad menjadikan kedainya sebagai media sosial yang sesungguhnya.

Alhasil, ketika keluar dari Kedai Semampir, biasanya pelanggan tidak hanya kenalan dengan orang baru, obrolan variatif, kadang bahkan mendapat info peluang kerja. Meski normalnya buka setiap malam kecuali Senin sejak pukul 17.00-00.00 WIB, suasana kekeluargaan antara pemilik dan pelanggan kerap bertahan hingga lebih larut.

Tidak banyak kudapan yang disediakan di sana. Hal itu sengaja dilakukan demi menjaga pundi penghasilan pedagang makanan sekitar. “Orang boleh saja beli makanan di mana lalu bawa makanannya ke sini,“ kata Ascar santai. Terbukti, meski ber ada di jalan yang kini sepi, Kedai Semam pir cocok menjadi tempat kumpul dan bergaul, baik bertemu teman lama ataupun men cari kawan baru.

Ascar juga mengingatkan ada banyak jalan bernama Semampir di Surabaya. Ka laupun harus tersesat sebe lum sampai, jangan kecewa. “Kesasar demi ke Semampir kan itu jadi bahan cerita un tuk diobrolin ke teman-teman,“ tutupnya ringan. (M-4) Media Indonesia, 14/12/2014, halaman 23

This entry was posted in Travelling and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *