Pacu Laju Ekonomi Provinsi Aceh

Lambatnya pertumbuhan ekonomi Aceh tidak berarti bahwa iklim investasinya memburuk.
Investor hanya butuh kemudahan investasi.

UPAYA rekonstruksi pas catsunami di Aceh, 10 tahun lalu, ternyata belum mampu mendongkrak pertumbuhan negeri Seuramo Mekah itu. Dalam sejarahnya, ekonomi Aceh selalu tercatat mempunyai tingkat pertumbuhan lebih rendah daripada rata-rata pertumbuhan nasional, bahkan provinsi tetangganya, Sumatra Utara.

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi Aceh (dengan migas) pada triwulan III 2014 sebesar 2,7 persen (year on year/yoy), mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,7 persen (yoy). Sementara itu, pertumbuhan Indonesia pada triwulan III 2014 mencapai 5,2 persen dan pertumbuhan provinsi Sumatra Utara 5,3 persen.

Bank Dunia menilai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lamban setelah tsunami menunjukkan kegiatan bisnis yang kurang baik.`Banyak investor masih mempertimbangkan stabilitas politik, masalah keamanan, juga masalah birokrasi, sehingga mereka masih mengambil sikap wait and see’, demikian analisis Bank Dunia seperti dikutip pada lamannya, kemarin.

Pemerintah daerah sebenarnya menyadari bahwa menarik investasi merupakan salah satu cara untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Aceh. “Karena itu, kita promosikan Aceh sebagai daerah yang aman, nyaman, dan regulasi yang menguntungkan semua investor, baik asing maupun dari dalam negeri,“ kata Kepala Badan Investasi dan Promosi (BIP) Aceh, Iskandar, kepada Media Indonesia, kemarin.

Menurutnya, geliat investasi di Aceh pascatsunami terus meningkat dan diyakini mencapai target realisasi investasi periode 2014 senilai Rp5,4 triliun. Berdasarkan laporan kinerja penanaman modal (LKPM) periode Januari-September 2014, realisasi investasi sudah mencapai Rp4,10 triliun.

Namun, jika melihat laporan triwulan Bank Indonesia, investasi di Aceh masih kembali mengalami perlambatan, yakni tumbuh 4,8 persen (yoy) lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,6 persen (lihat tabel).

Birokrasi islami Pengamat ekonomi dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Nazamuddin berpendapat meski pembangunan Aceh setelah 10 tahun tsunami sudah mengalami perubahan dan kemajuan hingga 100 persen, kondisi itu tidak mampu dimanfaatkan pemerintah Aceh untuk mendatangkan investor skala besar guna meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Tantangan Aceh di masa depan, bagaimana perdamaian dan stabilitas politik harus tetap dijaga. Kehadiran pemerintah dengan birokrasi yang lebih islami juga penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,“ ujar Nazamuddin kepada Media Indonesia, kemarin.

Pemerintah Aceh memfokuskan investasi pada tiga sektor, yaitu agroindustri, infrastruktur dan energi, serta pengembangan pariwisata. Ketiga sektor itu dinilai paling menarik minat investasi di Aceh, selain sektor minyak dan gas.

“Kita akan menjamin investasi yang masuk ke Aceh. Harapannya, investasi ini bisa menciptakan banyak lapangan kerja dan membantu perekonomian Aceh,“ kata Gubernur Aceh, Zaini Abdullah.(*/X-10) amiruddin @mediaindonesia.com Kirimkan tanggapan Anda atas berita ini melalui e-mail: interupsi@mediaindonesia.com Facebook: Harian Umum Media Indonesia. Media Indonesia, 26/12/2014 halaman 1

Note: Dengan peningkatan perekonomian di Provinsi Aceh tentu akan memberikan dampak yang sangat baik kepada para pelaku bisnis sewa mobil di Aceh.

This entry was posted in Bisnis & Ekonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *