Nilai Leluhur di Kampung Betawi

BUNGA kamboja mulai berguguran di kompleks permakaman Katolik, Kampung Sawah, Kota Bekasi, Jawa Barat. Manuel Boeng Napium, warga Betawi asli pemeluk Katolik, sedang duduk santai di atas sebuah kuburan.
Kakek 87 tahun itu baru saja selesai membersihkan pekuburan yang juga merupakan peristirahatan para leluhurnya. Merawat kuburan sudah dilakukan sukarela oleh Boeng sejak ia pensiun dari jabatan kepala sebuah sekolah dasar di wilayah itu.

“Ini tanah leluhur sehingga harus bersih.Saya tidak mendapatkan gaji. Hanya ingin agar kampung Betawi ini bersih,“ tutur Boeng yang Jumat (19/12).

Beberapa hari menjelang Natal ini, membersihkan pekuburan menjadi hal yang tidak boleh terlewat. Seperti juga yang banyak dilakukan umat muslim menjelang Idul Fitri, bagi Boeng bersih-bersih merupakan tradisi.

Budaya leluhur juga terlihat dalam penampilan Boeng. Kakek 7 cucu dan 13 buyut itu mengenakan peci dan sabuk hijau khas Betawi. Pakaian khas itu pula yang menjadi kebanggaan umat Nasrani setempat setiap kebaktian Minggu ataupun hari besar. Para pria mengenakan kopiah dan baju koko, sedangkan kaum perempuan menggunakan tudung ketok untuk beribadah ke gereja.

“Pada setiap misa (kebaktian) Minggu, mereka masih menjaga tradisi dengan menggunakan baju khas Betawi. Ini yang membuat gereja di sini unik jika dibandingkan dengan daerah lainnya,“ ujar Pastor Agustinus Purwanto dari Gereja St Servatius Kampung Sawah.

Di gereja itu jumlah jemaat yang merupakan etnik Betawi mencapai 1.700 orang (440 kepala keluarga). Saat Paskah dan Natal, kesenian khas Betawi juga ditampilkan.

Pada Natal tahun lalu, kridawibawa, sebutan para petugas Gereja St Servatius mengenakan celana komprang lengkap dengan sabuk hijau, membawa golok, dan mengenakan kopiah hitam. “Ini sebagai simbol untuk menjaga budaya,“ tambah Ipung.

Jemaat lainnya yang bukan etnik Betawi pun ada pula yang ikut berpakaian adat.Sekitar 80% jemaat gereja itu memang merupakan pendatang dari wilayah lain seperti Jawa, Flores, Ambon, dan Minahasa.Toleransi Daerah Kampung Sawah itu juga menjadi potret kerukunan antarumat beragama. Saat perayaan Natal, banyak umat Islam yang bertindak menjaga keamanan agar para tetangga ataupun kerabat mereka yang Nasrani bisa beribadah dengan nyaman.

Toleransi memang sudah mendarah daging karena dalam satu keluarga di sana bisa terdiri dari pemeluk agama yang berbeda.Maka gereja yang berdekatan dengan masjid dan pesantren pun tidak aneh.

“Saya pemeluk Islam, tetapi saya juga ikut merayakan Natal karena ayah saya Kristen.Ini sebagai bukti kami keluarga Betawi punya rasa solidaritas. Hidup toleransi itu sangat indah,“ jelas Irma Yusnita, warga setempat.
Cendekiawan Franz Magnis Suseno menilai budaya dan agama tidak bisa dipisahkan.Semakin kuat sebuah budaya, akan memengaruhi suatu agama tertentu.

“Nilai-nilai kemanusiaan itu sendirilah yang akan memberikan kepemahaman atas moral.Dengan moral, semua manusia bisa saling hidup dalam kerukunan,“ pungkasnya. (Iwan Kurniawan/M-4) Media Indonesia, 21/12/2014 halaman 5

This entry was posted in Lifestyle and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *