Merayakan Kekayaan Sei Mahakam

Aneka rupa peranti kehidupan masyarakat sekitar Mahakam dipamerkan, kerajinan dan para aksi para perajinnya, tarian, diskusi, hingga sang penguasa sungai, buaya muara. Perahu ketinting berpulas warna-warna cerah, bubu, peranti perangkap udang beraneka ukuran dan dua buaya sepanjang lebih dari 6 meter itu menandai keperkasaan Sungai Mahakam.

Aneka warna kehidupan yang terjalin di sungai yang membelah Kalimantan Timur itu, termasuk hewan hewan yang hidup di dalamnya, pun inovasi seni manusia-manusia yang tinggal di sekitarnya diangkut dari tanah Borneo ke Ibu Kota.

Festival Sei Mahakam yang diselenggarakan Yayasan Total Indonesia dibuka pada Kamis (6/11) hingga Minggu (16/11) di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jakarta Barat. Wajah Mahakam dihadirkan lengkap di sini, sungai sepanjang 980 kilometer itu berhulu di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Kutai Barat, di wilayah perbatasan dengan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, hingga bermuara dan membentuk Delta Mahakam di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Di sungai itu pula denyut kehidupan peradaban Nusantara bermula karena di Muara Kaman, lembah Mahakam, berdiri Kerajaan Kutai Martadipura atau Kutai Martapura, kerajaan tertua di negeri ini. Begitu pula Kerajaan Kutai Kartanegara, berdiri di sana pada abad ke-14.

Kejayaan peradaban sungai terus berlanjut hingga Indonesia berdiri.Perahu-perahu besar, seperti yang tertera pada gambar-gambar yang dipamerkan dalam pergelaran itu, hilir mudik. Di sela-selanya, ada ketinting, perahu kecil yang pada masa lalu dibuat dari kayu bengkirai atau ulin. Sosok ketinting bahkan dibawa serta ke BBJ.

Festival itu memang buat merayakan Mahakam dan kekayaan Borneo, bukan cuma alam, melainkan juga budaya.

Di sana, ada pula Sudiati, 50, dan Novianti, 36, perajin kain tenun ulap doyo dan sulam tumpar, yang bersama para pegiat kerajinan tangan lainnya memamerkan proses kerja pun menjual karya mereka. Bahkan, kekayaan tradisi kuliner di pun mendapat panggung di sini. Ada demo masak Kutai dan Dayak, bukan cuma rasa dari belahan Borneo yang ditampilkan, melainkan juga keterampilan mengolah.

Tiga warna budaya Sri Wahyuni, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanehara, mengungkapkan tiga warna kultur Kalimantan Timur, yang kental dipengaruhi Mahakam, ialah Kutai Kartanegara Ing Martadipura, suku Dayak yang tinggal di pedalaman, serta suku pesisir, yaitu suku Kutai.

Aneka rupa kultur itu padu dalam keseharian dan terus berinteraksi hingga menjadi aneka tradisi dan seni. Salah satu wujudnya, Tari Jepen yang ditampilkan pada malam pertunjukan.

Tari pergaulan itu tampil harmoni dalam aneka warna kostum penarinya. Iramanya identik dengan kultur Kutai, diiringi tingkilan, alat musik serupa gitar yang dipadukan ketipung atau dendang kecil.

Tari Jepen itu juga menjadi penanda Nusantara yang terkoneksi, kultur Melayu bisa ditemui di Sumatra juga Kalimantan. Wujudnya mirip Tari Japin di Sumatra.

Sayangnya, seperti juga kultur di berbagai penjuru negeri, Tari Jepen, tenunan ulap doyo, bahkan ketinting pun perlahan mulai tergeser. Salah satu pemicunya manusia yang kian menjauh dari sungai. Koneksi antardaratan yang kian bagus membuat banyak tradisi tergerus. Karena itu, Festival Sei Mahakam pun dihadirkan. Bukan hanya bendabenda yang dipajang, atau ibu-ibu yang menenun atau menganyam, forum diskusi pun digelar.

Di antaranya seminar bertitel Keraton Kutai Masa Lalu, Kini, dan yang akan Datang pada Jumat (7/11). Pembicaranya Pangeran Harry Gondo Prawiro, Menteri Sekretaris Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura, serta Eddy Sedyawati, dosen Universitas Indonesia.

Ada pula seminar Potensi Pariwisata Kukar dan Buaya Muara yang menghadirkan Sri Wahyuni dan Suriandyah, staf ahli Bupati Kutai Kartanegara, pada Senin (10/11) mendatang.

“Karena Mahakam sungguh kaya, kini fasilitas juga semakin membaik, hotel bintang tiga dan empat sudah ada di Tenggarong. Ada juga tur untuk melihat pesut di Mahakam, yang jika beruntung, ketika air tidak pasang dan tak pula surut, artinya sedang, bisa ditemui. Hingga kini pesut belum bisa ditangkarkan, seperti dilaporkan Rare Aquatic Species of Indonesia,“ kata Sri.

Mahakam tampil komplet di sini.Ada banyak tantangan yang dihadapi sungai dan para manusianya, tetapi tetap saja sungai ini memikat dan perkasa. (M-2) Media Indonesia, 9/11/2014, halaman 10

This entry was posted in Travelling and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *