Bersolek Layani Wisata Bahari

Tanpa perubahan wajah, sulit bagi Pelni untuk memikat pelancong dari kelas menengah.
Visi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang dicanangkan Presiden Joko Widodo menyemangati PT Pelni (persero) untuk mengambil peran aktif di dalamnya. Itu momentum yang tepat untuk berbenah, kata Direktur Utama (Dirut) Pelni Sulistyo Wimbo S Hardjito.

Sejak menjabat posisi dirut pada Mei 2014, Wimbo terus mencari berbagai terobosan untuk mengubah wajah armada angkutan laut Pelni. Ia menyadari angkutan Pelni selama ini masih kurang mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Padahal, di wilayah Indonesia bagian timur, layanan Pelni telah menjadi tumpuan mobilitas jarak jauh.
“Kami ingin menjadi lebih ramah, lebih nyaman, tapi tetap terjangkau bagi rakyat,“ tegas Wimbo ketika diwawancarai Media Indonesia dalam rangkaian Media Tour MakassarLabuan Bajo, akhir September lalu.

Banyak yang harus diperbaiki di kapal-kapal milik Pelni, terutama bagian interior yang sudah terlihat lusuh dan berkarat di sana-sini. Toilet dan kabin penumpang, khususnya di kelas ekonomi, kumuh. Sulit bagi Pelni untuk menarik minat lebih banyak masyarakat dengan perwajahan demikian.

“Kondisi kapal-kapal Pelni menyedihkan karena kurang pemeliharaan. Tahun depan insya Allah lebih baik karena pemerintah sudah siapkan subsidi yang cukup,“ ungkap Wimbo.

Upaya Pelni bersolek, diakui Wimbo, memerlukan dana ratusan miliar rupiah. Beruntung, program pemerintah selaras dengan rencana perseroan sehingga subsidi yang diterima Pelni tahun depan meningkat menjadi sekitar Rp1,5 triliun. Selama ini subsidi yang dialokasikan pemerintah untuk Pelni selalu di bawah Rp1 triliun.

Pengalaman menjabat Direktur Komersial PT KAI dan terlibat langsung dalam transformasi layanan transportasi kereta sedikit banyak memudahkan Wimbo mengenali permasalahan Pelni.

“Seperti juga di KAI, membenahi dan membersihkan 600-an stasiun itu mahal. Memperbaiki reputasi memang enggak gampang. Kita perbaiki terutama yang ekonomi. Kita jadikan murah bukan berarti kumuh,“ tutur Wimbo.

Menurut Wimbo, di satu hal, pembenahan transportasi laut Pelni lebih mudah ketimbang angkutan KA. Ia mencontohkan lintasan yang dilalui. Pelni tidak perlu memelihara lintasan seperti yang dilakukan PT KAI. Dengan demikian, tidak perlu alokasi dana yang besar untuk itu.

Namun, di sisi lain pembenahan tempat pemberangkatan lebih sulit ketimbang PT KAI membenahi stasiun-stasiun. Pelni tidak memiliki dan mengelola sendiri tempat pemberangkatan. Jelajahi Eropa Berkiprah di bidang transportasi publik bukanlah gambaran pekerjaan yang ingin Wimbo lakoni ketika memasuki bangku kuliah. Ia memilih Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) agar bisa menjajaki karier di perusahaan telekomunikasi.

Setelah menamatkan pendidikan di ITB, Wimbo bergabung dengan PT Indosat. Setahun kemudian, ia ditugasi belajar di bidang telekomunikasi di Jerman Barat.

“Waktu itu Jerman masih pisah. Saya tugas belajar di Jerman Barat 1,5 tahun,“ ungkap Wimbo.
Kesempatan belajar di Jerman Barat juga sekaligus dimanfaatkan untuk memuaskan hobi melancongnya. Wimbo berkeliling Eropa di sela-sela kegiatan belajar.

“Sempat juga saya ke Belanda diantar keliling oleh sahabat saya, Adnan Buyung Nasution. Dia yang menyopiri saya di Belanda,“ kenangnya.

Sejak masih kuliah di ITB, Wimbo memang banyak menghabiskan waktu libur untuk menjelajahi Indonesia. Jawa, Bali, Lombok, dan Sumbawa merupakan pulau-pulau yang sudah dia jejaki. Ia bahkan tidak segan berpetualang sendirian.
Ketika di Eropa pula, Wimbo mengambil kesempatan berkunjung ke Amerika Serikat (AS). Kebetulan, kakak Wimbo tengah tinggal di Ohio. Lima belas hari ia habiskan berkeliling AS, termasuk mengunjungi Air Terjun Niagara.
Meski amat tergila-gila dengan hobi melancong, Wimbo mengaku tidak satu pun dari dua anaknya yang me miliki hobi serupa dirinya. Mereka juga tidak mengikuti jejak karier sang ayah.

“Saya memang mengusahakan agar anak-anak saya tidak hidup di bawah bayang-bayang saya. Biar mereka cari jalan hidup sendiri,“ ungkap Wimbo. Berubah arah Seiring dengan berjalannya waktu, dibekali hasil tugas belajar, Wimbo semakin menguasai dan menghayati berbagai hal tentang telekomunikasi. Ia mungkin bisa dibilang terlampau menghayati.

“Kerja di telekomunikasi tiap kali melihat menara (telekomunikasi), penginnya naik,“ cetusnya sambil tertawa. Namun, nasib Wimbo selanjutnya bergerak ke arah bidang lain. Melalui sebuah penugasan, ia dipinang pemerintah untuk menduduki posisi Direktur Komersial PT KAI. Sumbangsih Wimbo dalam transformasi PT KAI diakui Ignasius Jonan, Direktur Utama PT KAI yang kini menjabat menteri perhubungan.

Jonan menyebut Wimbo sebagai pekerja keras dan penuh ide kreatif. Wimbo-lah pencetus program cetak tiket mandiri dan online ticketingg di PT KAI.

Prestasi itu pula yang membuat Menteri BUMN saat itu, Dahlan Iskan, kepincut dan kemudian menunjuk Wimbo sebagai Dirut Pelni. Wimbo mengaku sama sekali tidak menyangka akan dipasrahi membenahi Pelni. Padahal, setahun sebelum ia diangkat menakhodai Pelni, ia ditugasi memaparkan reformasi PT KAI di hadapan para karyawan Pelni.

Dengan tanggung jawabnya kini, ia ingin menjadikan layanan Pelni bernilai tambah. Sektor wisata bahari menjadi fokus Wimbo dengan membidik kelompok kelas menengah.

“Sasaran kami para pelancong yang memiliki penghasilan Rp5 juta sampai Rp10 juta per bulan,“ tuturnya.
Itulah sebabnya, kabin-kabin kapal laut Pelni harus dijadikan lebih nyaman sehingga bisa menarik para pelancong kelas menengah tersebut. Sulitnya akses ke destinasi-destinasi wisata bahari Nusantara justru menjadi peluang bagi Pelni. “Kami akan masuki destinasi-destinasi yang kurang dipromosikan. Penginapan belum siap dan mandi susah.

Kapal Pelni bisa sekaligus menjadi penginapan terapung,“ papar Wimbo. Ia menjanjikan perubahan wajah Pelni tidak berimbas pada penaikan tarif. Justru, Pelni akan menyiapkan program-program diskon yang menarik.
“Beri saya dua tahun untuk memperbaiki dan meningkatkan layanan kepada penumpang sehingga mereka betah,“ pinta Wimbo. (E-2) Media Indonesia, 24/11/2014, halaman 18

This entry was posted in Travelling and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *