Dua Abad Candi Borobudur

Candi Buddha terbesar di Indonesia ini menghadapi banyak ancaman, terutama perubahan cuaca. SEJUMLAH wisatawan dari Jepang gigih mendaki undak-undakan di gerbang utama Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Terik matahari tidak menyurutkan para wisatawan berkeliling areal candi.

Salah satu bangunan keajaiban dunia itu telah berusia dua abad pada tahun ini. Candi Buddha tersebut menjadi saksi bisu perjalanan bangsa Indonesia dari abad lampau hingga saat ini. Di usia 200 tahun, Candi Borobudur menghadapi banyak ancaman, terutama kerusakan alam, yang bisa menghancurkan situs kuno itu.

“Candi Borobudur dibangun di atas perbukitan.Karena berada di atas bukit, sewaktu-waktu bangunan candi bisa rusak bila terjadi gempa bumi,“ kata Kepala Balai Konservasi Candi Borobudur Marsis Sutopo di sela-sela peringatan 200 tahun Candi Borobudur yang dimulai Agustus hingga Oktober tahun ini.

Marsis sangat paham kondisi tiap-tiap stupa. Ia pun tak ingin kecolongan apabila ada batu candi yang rusak tanpa diketahui petugas. Untuk menjaga seluruh bangunan tidak rusak, balai konservasi secara berkala memantau untuk mengetahui kestabilan konstruksi candi.

“Candi Borobudur ini sudah dua abad umurnya dan sudah menemukan kestabilan alami. Selama ini dari hasil monitoring belum ditemukan hal-hal mengkhawatirkan terkait dengan kestabilan,“ kata Marsis, Senin (18/8).

Ancaman gempa memang sering mengguncang Candi Borobudur baik dalam skala kecil maupun besar. Contohnya gempa Yogyakarta 2006 dan Kebumen yang terjadi baru-baru ini. Namun, dari hasil penelitian balai konservasi, semua gempa bumi yang terjadi belum mengubah posisi candi berdasarkan konstruksi.

“Dari monitoring stabilitas candi dan bukit secara berkala, sampai saat ini tidak ada pergeseran. Kita juga pasang alat crack meter di sudut barat daya untuk memantau pergeseran,“ kata Marsis.Tempat terbuka Ancaman lainnya, Borobudur berlokasi di tempat terbuka. Candi tersebut selalu terpapar panas dan guyuran hujan hingga dua abad ini. Candi pun mengalami penguapan dan pelembapan akibat perubahan cuaca. Pada akhirnya permukaan batu ditumbuhi lumut dan terjadi kebocoran pada dinding candi.

“Pada pemugaran kedua 1973-1983, ada teknologi baru yang mulai diperkenalkan untuk melindungi dinding relief. Ada lembar timah untuk melindungi bagian atas dan luar, juga kedap air untuk bagian bawah dan dalam. Jadi intinya dinding relief aman,“ papar Marsis.

Ancaman lainnya ialah apabila jumlah pengunjung yang datang ke Borobudur terlalu banyak. Umumnya para pengunjung selalu menaiki tangga menuju puncak candi. Hal itu membuat bagian tangga rentan aus karena terjadi gesekan dan tekanan. Itu berbeda dengan bagian lantai. Berdasarkan pengamatan balai konservasi, bagian bangunan yang paling banyak mengalami aus ialah tangga naik di sisi timur dan tangga turun di sisi utara. Tangga-tangga itu paling banyak dilalui para pengunjung.

Balai konservasi telah meneliti untuk mengukur tingkat keausan batuan di bagian tangga dan cara mengatasinya.
“Kami masih berpikir apakah perlu memberi lapisan pada bagian tangga. Jika perlu, harus dipertimbangkan pula apa bahan lapisan yang harus dipakai. Atau, dengan cara lain yakni menerapkan ketentuan bahwa orang yang akan naik ke candi harus menggunakan alas kaki atau sandal khusus seperti model sandal hotel,“ terangnya.
Tujuannya untuk mengurangi gesekan dan tekanan pada batuan di bagian tangga candi.

Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan segera membuat contoh pelapisan batuan sekitar 10 trap.Bahannya mungkin dari papan kayu. Pelapisan batuan itu tidak bisa dibuat dan dipasang sembarangan agar tidak meleset ketika diinjak orang.Setelah itu jadi, balai konservasi akan mengundang para pakar dalam sebuah seminar untuk memberikan masukan guna penyempurnaan bentuk akhir pelapisan.

“Kita akan melindungi tangga dari empat sisi. Yang terpenting pelapisan tidak menyalahi prinsip pelestarian dan memiliki nilai estetis. Jangan sampai setelah dilapisi malah jadi jelek. Kita belum menghitung anggaran untuk pembuatan pelapisan itu.“

Berdasarkan penelitian sejak tahun lalu, kondisi pelapukan batuan candi tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, keausan batuan justru harus diperhatikan. Penelitian itu dilakukan balai konservasi bersama tim ahli dibantu pakar UNESCO dari Jerman. Akan tetapi, setelah dilakukan tes, permukaan batuan di bagian lain belum mengalami keausan.
Penyebab kerusakan akibat penggaraman atau sementasi, yakni unsur yang menempel pada batuan karena adanya air yang membawa garam terendap di batuan. Saat hujan turun, batuan menyerap air cukup banyak, sedangkan dalam kondisi panas terjadi penguapan atas air yang diserap saat hujan.

Jika penguapan terlalu cepat, itu bisa menyebabkan terjadinya ledakan di permukaan. Fenomena tersebut menyebabkan kerusakan pada permukaan batuan dengan munculnya lubang alveolus berukuran kecil-kecil dalam jumlah banyak pada permukaan batuan. Lubang yang berukuran kecil itu lama-lama membesar dan merusak batuan. Ancaman lainnya ialah abu vulkanis Gunung Merapi dan erupsi gunung lainnya seperti Kelud. Abu vulkanis yang muncul sebagai hasil erupsi kerap mengguyur wilayah sekitar Borobudur.

Bahkan abu vulkanis banyak menempel di batuan candi yang bisa mempercepat pelapukan batu, sebab abu vulkanis membawa zat sulfur. Oleh karena itu, tiap kali turun hujan abu, balai konservasi langsung menutup stupa candi dengan mantel. Abu vulkanis yang menempel langsung dibersihkan agar tidak mengganggu sistem drainase.
Kepala Seksi Layanan Konservasi Balai Konservasi Borobudur Iskandar M Siregar menambahkan jumlah batu pijakan candi sebanyak 1.033 bidang. Ribuan batuan itu tersebar di empat titik, yaitu di sisi barat, timur, selatan, dan utara. Dari jumlah itu, sebanyak 1.028 bidang batuan tangga mengalami keausan.

“Keausan itu karena dipakai untuk naik dan turun para pengunjung sehingga terjadi gesekan dengan alas kaki. Kalau lorong candi tidak mengalami keausan,“ jelasnya. (N-3) Media Indonesia, 3/09/2014, hal 22

This entry was posted in Travelling and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *