Papua Negeri Kaya Penuh Potensi Wisata

Raja Ampat merupakan wilayah kepulauan yang terletak di barat laut kepala burung Pulau Papua dan memiliki empat pulau besar, yakni Misol, Salawati, Bantata, dan Waigeo. Daerah itu juga memiliki keanekaragaman hayati yang terlengkap di dunia. SEJUMLAH penikmat wisata menulis banyak versi untuk surga bawah laut di Indonesia dan dunia. Ada yang merekomendasikan 5, 7, 9, bahkan 10 lokasi.

Dari semua versi itu, mereka selalu memasukkan alam bawah laut Raja Ampat sebagai salah satu surga. Keindahan laut salah satu kabupaten di Papua Barat itu disejajarkan dengan Blue Hole di Belize, Sipadan, yang kini telah menjadi milik Malaysia, Great Reef Barrier di Australia, dan Fernando de Noronha milik Brasil.

Tidak berlebihan, dalam beberapa kali kesempatan, Gubernur Papua Barat Abraham Octavianus Aturury sampai berani mempromosikan wilayah tersebut dengan pernyataan, “Jangan mati dulu sebelum ke Raja Ampat.” Raja Ampat merupakan wilayah kepulauan yang terletak di barat laut kepala burung Pulau Papua dan memiliki empat pulau besar, yakni Misol, Salawati, Bantata, dan Waigeo. Daerah itu juga memiliki keanekaragaman hayati yang terlengkap di dunia.
Yang tidak kalah uniknya, perairan di sana juga menjadi pelintasan ikan paus karena berada di bibir Samudra Pasifi k. Tidak hanya di bawah laut, kekayaan Raja Ampat terukir dalam kemolekan karst serta keberadaan burung langka nan elok seperti cenderawasih merah, cenderawasih wilson, dan maleo waego.

“Keindahan alam Raja Ampat terbentang dari langit sampai dasar laut,“ kata Aryati, pengajar di Universitas Airlangga, Surabaya, saat berkunjung ke sana.

Di Raja Ampat, perempuan yang membawa kedua anaknya untuk ikut berwisata itu mengunjungi Pulau Piainemo, Hidden Bay (Teluk Tersembunyi), Kampung Wisata Arborek, dan Pasir Timbul. Aryati pun rela mendaki tangga kayu setinggi 35 meter yang dibangun pemerintah pada Juli lalu. Dari puncak bukit itulah ia bisa mereguk keunikan dan pemandangan alam Piainemo.“Rasa lelah saya setelah mendaki tangga ini langsung terbayar lunas oleh pemandangan yang indah,“ puji Aryati.

Pemerintah yakin dalam jangka panjang Raja Ampat akan terus menyedot kunjungan wisatawan. “Konservasi laut di sana paling maju dan terus dijaga. Banyak negara asing, juga sejumlah NGO, yang mengakui upaya pelestariannya,“ kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo yang juga Ketua Pelaksana Panitia Nasional Sail Raja Ampat.
Penilaian itu tidak salah. Pasalnya, seperti diungkapkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, pengembangan Raja Ampat dilakukan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan alam. Butuh promosi Menko Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengakui terumbu karang, flora, dan fauna di Raja Ampat memiliki keindahan tak terhingga. “Daerah ini juga kaya dengan potensi sejarah dan budaya. Pemerintah sudah menetapkan kepulauan ini sebagai kawasan konservasi perairan nasional,“ tuturnya di Jakarta, Maret lalu.

Daerah yang memiliki 1.846 pulau itu ditetapkan sebagai kabupaten mandiri pada 2003, setelah sebelumnya menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Sorong. Namun, setelah 10 tahun mandiri, Raja Ampat belum mampu keluar dari predikat sebagai daerah tertinggal. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal mencatatnya berada sejajar dengan 182 daerah tertinggal lainnya di Indonesia.

Pertimbangan itu pula yang ikut mengantar Raja Ampat dipilih sebagai tujuan Sail Indonesia 2014. “Sail Raja Ampat, seperti sail sebelumnya, dilakukan dalam kerangka pembangunan serta upaya menyejahterakan rakyat secara berkelanjutan,“ ungkap Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia Dedi H Sutisna, di Raja Ampat, awal Agustus lalu.
Sail Raja Ampat pun dijadikan model percepatan pembangunan daerah kepulauan dan daerah terpencil. Gelaran kegiatan itu sangat efektif untuk mempromosikan wilayah Papua dan sekitarnya sebagai tujuan wisata nasional dan internasional.

“Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk melestarikan, mengembangkan, serta mempromosikan potensi wisata Raja Ampat. Sail Raja ampat merupakan contoh pengembangan ekonomi kelautan,“ tambah Sekretaris Panitia Pelaksana Sail Raja Ampat itu. Karena itu, selain berpromosi, tidak salah kalau pemerintah juga mengucurkan dana hingga triliun rupiah untuk membangun infrastruktur di Raja Ampat. Untuk meraih devisa dan memajukan warga memang butuh kesungguhan dan dana.

Kunjungan ke Raja Ampat diyakini juga akan berimbas ke wilayah lain. Salah satunya ialah Kota Sorong. Pembenahan terus dilakukan di kota yang menjadi pintu masuk bagi Raja Ampat dan daerah lain di sekitarnya karena memiliki Bandara Domine Eduard Osok.

Jauh-jauh hari, para pemilik modal sudah membangun sejumlah hotel. Tujuannya tidak lain untuk mewadahi turis dan pengunjung sebelum menuju ke Raja Ampat.“Hotel-hotel di Kota Sorong sudah siap menampung tamu Sail Raja Ampat. Jumlah kamar mencukupi,“ kata Wali Kota Sorong Lambert Jitmau.

Sebagai tempat transit, Sorong juga berusaha membuat turis tinggal lebih lama dengan menata lokasi wisata yang ada.“Jika dipadukan dengan pagelaran budaya turis akan lebih kerasan,“ ungkap Junus, pengamat kepariwisataan.
Beberapa lokasi yang layak dikunjungi di Sorong ialah Pantai Tanjung Kasuari Pantai Makbon, dan Pantai Tembok Berlin.Sayangnya, dari ketiganya, baru Tembok Berlin yang mendapat perhatian, dengan pembenahan infrastruktur oleh pemerintah kota. (MS/Ant/N-2) Media Indonesia, 20/08/2014, halaman 22

This entry was posted in Travelling and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *