Angkutan yang Dipuji dan Dicaci

Di satu sisi, omprengan membantu warga yang membutuhkan transportasi, tapi keberadaannya menimbulkan masalah. ANGKUTAN umum yang nyaman dan aman men jadi dambaan masyarakat, termasuk warga Jakarta dan daerah penyangga di sekitarnya seperti Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, untuk beraktivitas di Ibu Kota.

Sayangnya, angkutan yang diidamkan itu belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat. Akibatnya, di wilayah tersebut bermunculan angkutan umum ilegal berpelat hitam, atau biasa disebut omprengan, termasuk di Bekasi.

Padahal di kota itu, bus kota, kereta commuter line, dan angkutan umum lainnya, tersedia.
Meski tidak memiliki izin, kehadiran omprengan membantu masyarakat. Tarif yang lebih mahal jika dibandingkan dengan angkutan umum resmi, yaitu Rp12 ribu per penumpang tujuan Jakarta, tak mengurangi minat pengguna.

Ompreng an tetap dianggap memberikan kepuasan lebih bagi penumpang. “Daripada berdiri di bus kota, apalagi dalam kondisi jalan macet, lebih baik naik omprengan,” tutur Rohani, warga Narogong, Kota Bekasi, kepada Media Indonesia, Senin (16/6).

Ia mengaku lebih memilih omprengan yang selalu ditumpanginya dari pintu Tol Bekasi Timur karena mempertimbangkan waktu tempuh yang dinilainya lebih cepat daripada bus kota. Selain itu, bus kota tidak selalu tersedia di lokasi tersebut.

Karena itu, ia tidak perlu menunggu lama atau bersusah payah mengejar bus kota agar tidak tertinggal. “Bagi saya sebagai perempuan, ataupun para pekerja yang mengenakan sepatu berhak tinggi, lebih nyaman menumpang omprengan karena tidak perlu bersusah payah naik bus kota yang tangganya tinggi,“ ujarnya lagi.

Bakal ditertibkan Jumlah omprengan di Kota Bekasi tidak terdata. Sebabnya, tidak ada komunitas khusus dan keberadaannya silih berganti. Namun, pada Senin lalu tercatat tujuh omprengan yang melaju dari pintu Tol Bekasi Timur menuju Jakarta. Omprengan di lokasi itu hanya menuju beberapa lokasi, antara lain kawasan segitiga emas Jakarta, yaitu Kuningan, Jalan Sudirman, Thamrin, serta tujuan Tanah Abang. Jam operasinya juga terbatas.
Pada pagi hari, angkutan ilegal itu mulai beroperasi pukul 05.00 hingga 11.00 WIB, sedangkan saat pulang kerja dimulai pukul 16.00.

Kehadiran omprengan tidak sekadar membantu sebagian warga, tetapi juga menjadi mata pencaharian pemilik kendaraan. Ahmad Zaini, 47, mengaku bersama keluarganya terbantu sejak dirinya bekerja sebagai sopir omprengan. Dalam sekali jalan, mobilnya bisa mengangkut 10 penumpang dengan pendapatan bersih Rp90 ribu. “Totalnya Rp120 ribu, tetapi dipotong untuk upah timer (calo) dan tol. Bersihnya sekali jalan kurang lebih Rp90 ribu,” ujarnya.

Kendati omprengan dibutuhkan masyarakat, bagi dinas perhubungan, angkutan itu tetap ilegal dan tidak boleh beroperasi. Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi Sopandi Budiman mengatakan, dari segi spesifikasi, mobil omprengan berbeda dengan angkutan umum resmi. Ia mengimbau warga Bekasi lebih memperhatikan keselamatan dan keamanan. “Omprengan akan ditertibkan karena alat transportasi ilegal,“ ujarnya.

Omprengan yang selalu mangkal dan berhenti sembarangan juga kerap mengganggu arus lalu lintas. Akibatnya, caci maki sering dilontarkan pengendara lain. (J-4) – Media Indonesia, 19/06/2014, halaman 8

This entry was posted in Transportasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *