Membangkitkan Ekspor Mobil Nasional

Dengan berbekal mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LGCC), penjualan mobil Indonesia diprediksikan menjadi 1,3 juta unit di akhir tahun.

DEMI industrialisasi dan memacu ekspor, kebijakan mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) pun diluncurkan beberapa tahun lalu. Meski belum dalam kuota signifikan, LCGC bakal ikut membangkitkan ekspor mobil tahun ini.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman Maman Rusdi mengatakan pengapalan mobil secara utuh (completely built up/CBU) diperkirakan meningkat.

Menurut Sudirman, LCGC bakal menjadi kontributor baru pengapalan mobil CBU Indonesia. “Kami prediksi ekspor pada tahun ini ialah 200 ribu unit berdasarkan masukan dari pabrikan-pabrikan. Tahun lalu ekspor mencapai 171 ribu unit,“ tegas Sudirman dalam konferensi pers perdana Indonesia International Motor Show (IIMS) 2014, awal Mei di Jakarta.

“Perkiraan LCGC (diekspor) 6.000-7.000 unit ke Filipina,“ lanjutnya. Angka yang disebutkan Sudirman ialah total ekspor LCGC untuk setahun penuh.

Angka itu pun baru ekspor untuk satu dari lima LCGC yang beredar di pasar otomotif Indonesia. “Untuk LCGC yang lainnya kami belum mendapat laporan,“ sambung Sudirman yang juga Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor itu.
Faktor lain kenaikan ekspor roda empat pada tahun kuda kayu ini, dari keterangan Sudirman, ialah peningkatan permintaan dari pasar Timur Tengah. Toyota dan Suzuki diangkatnya sebagai dua pabrikan yang mengirim mobil rakitan dari negeri ini ke berbagai negara Timur Tengah.

“Saat ini saya tidak punya angkanya, tapi kami mendapat info dari para anggota Gaikindo bahwa permintaan dari Timur Tengah meningkat. (Permintaan) dari Afrika juga bagus,“ aku Sudirman lagi.

Bila menilik data ekspor-impor Gaikindo yang terdapat pada laman daring resminya, ekspor kendaraan CBU selama Januari-April tahun ini telah mencapai 65.088 unit. Jumlahnya naik 14.13% dari periode yang sama tahun sebelumnya saat industri otomotif Indonesia menyeberangkan 57.029 unit mobil utuh ke negeri lain.

Kementerian Perindustrian menyebutkan Indonesia bersaing dengan Thailand, basis produksi dan pengekspor utama pabrikan di Asia Tenggara. Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi saat diwawancarai Media Indonesia dalam pembukaan IIMS 2013, September, di Jakarta menargetkan kawasan seputar ASEAN sebagai sasaran utama ekspor LCGC.

“Utamanya ialah ASEAN, lalu negaranegara Afrika, Oceania, Amerika Selatan.
Mereka selalu senang dengan mobil-mobil kita,“ ucapnya.

Menteri Perindustrian MS Hidayat, di acara yang sama, juga sempat mengungkapkan kuota ekspor mobil dalam negeri yang tadinya 16% dari produksi nasional akan ditingkatkan menjadi 30% tahun ini.

Saingi penjualan Dalam paparan proyeksi industri otomotif 2014, awal tahun ini di Jakarta, Vice President of Automotive and Transportation Practice of Frost and Sullivan Asia Pacific Vivek Vaidya menganggap persaingan antara Indonesia dan Thailand masih condong kepada angka penjualan alih-alih sebagai basis produksi di kawasan.
“Kompetisi (antara Indonesia dan Thailand) ada di volume penjualan domestik karena dari sudut pandang kapasitas produksi industri, Indonesia dan Thailand sangat berbeda. Thailand saat ini sekitar 2,5 juta unit per tahun dan Indonesia 1,4 juta unit per tahun,“ paparnya.

Dengan berbekal LCGC, ia memperkirakan penjualan mobil Indonesia akan menjadi 1,310 juta unit di akhir tahun, dengan 150 ribu unit di antaranya datang dari LCGC. “Dengan LCGC, Indonesia dapat mengambil alih (penjualan mobil terbanyak ASEAN) dari Thailand pada 2018,“ tandasnya.

LCGC juga dianggap mampu menyokong era motorisasi Indonesia. “Kami melakukan survei terhadap pembeli Karimun Wagon R di enam kota dengan jumlah responden 500 orang. Sebanyak 39% ialah pembeli mobil untuk pertama kalinya,“ jelas Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Jaringan Purnajual PT Suzuki Indomobil Sales Davy J Tuilan via pesan singkat, Minggu (18/5).

Ketua I Gaikindo Yongkie D Sugiarto menjelaskan untuk menjadi basis produksi plus negara pengekspor seperti Thailand, Indonesia harus menyempurnakan birokrasi dan besaran pajak penjualan barang mewah (PPnBM) yang tinggi untuk sedan. “Toyota Soluna, Honda City, pernah diproduksi di Indonesia, tapi kemudian pindah ke Thailand karena pasar segmen itu di Indonesia tidak berkembang,“ imbuhnya, Januari lalu, di Jakarta. (S-1) Media Indonesia, 20/05/2014, hal 12.

This entry was posted in Otomotif and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *