Uji Kejantanan di Ujung Pecut Rotan

Atraksi beripat menjadi penanda keberanian dan sikap kesatria lelaki Melayu di Pulau Belitung. ANGIN laut yang bertiup kencang dan teriknya matahari mengiringi gerombolan lelaki dewasa turun dari mobil bak terbuka di kawasan Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Bangka Belitung.

Mereka adalah para `kesatria’ beripat. Beripat merupakan atraksi adu ketangkasan menggunakan alat pecut rotan alias cambuk rotan yang hingga kini masih bisa dinikmati walau hanya di hajatan perkawinan atau upacara syukuran hasil panen padi (Maras Taun).

Alat pecut rotan lazimnya sepanjang 70 hingga 90 sentimeter. Pembuatannya cukup mudah, rotan dibersihkan lalu dijadikan alat pemukul.

Di ujungnya, terdapat gagang berupa bambu dan kayu yang diikat kuat agar jika diayunkan sebagai cambuk tak mudah koyak. “Atraksi beripat adalah warisan kami. Biasanya dipentaskan sebagai hiburan rakyat,“ ujar Kepala Desa Keciput, Ariyandi, kepada Media Indonesia di Desa Keciput, awal April lalu.

Desa Keciput berjarak 27 kilometer dari Kota Tanjung Pandan, ibu kota Kabupaten Belitung.
Selain di Keciput, beripat pun juga populer di Lemong Lele, Manggar, Belitung Timur, yang bisa ditempuh selama 1,5 jam perjalanan dari Tanjung Pandan.

Adu ketangkasan ini berawal dari keberadaan para kesatria yang loyal terhadap kerajaan di tanah Belitung. Namun, konon asal usul aktraksi ini dibawa prajurit Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7. Mereka menyebarkan beripat saat melakukan ekspansi ke pulau-pulau sekitarnya.

“Saat kecil (era 1970-an) sudah ada permainan adu ketangkasan di kampung kami.
Bila digelar, warga berbondong-bondong untuk menonton. Selalu ramai karena ini hiburan warga,“ jelas Ariyandi.
Keberanian Beripat hanya boleh dimainkan orang de wasa. Cara bermainnya terbilang mudah, dua lelaki dewasa saling berdiri dan menyerang dengan memukulkan pecut rotan ke bagian tubuh lawannya.

Tubuh yang terkena pecut rotan akan memerah dan membengkak. Terkadang berdarah, tentunya meninggalkan jejak rasa sakit. Jika darah sampai mengucur, tetua adat atau dukun akan mengoleskan minyak ke tubuh petarung.
Alhasil, dalam beberapa hari, luka langsung kering dan sembuh. Bagian kepala petarung harus ditutupi dengan kain atau baju, penanda bagian kepala tak boleh dicambuk.

Hanya bagian tubuh yang boleh dipecut.
“Anak-anak tak diperbolehkan karena pecut rotan bisa membuat rasa perih dan sakit berhari-hari,“ timpal Husni, 45, warga setempat.

Para petarung pun harus bernyali besar. Bila nyali menciut, ia bisa menjadi sasaran empuk lawan yang mencambuk bertubi-tubi. Beripat menjadi sebuah simbol, pelakunya telah mampu merantau.

Seseorang yang terkena cambukan diyakini akan kebal, bertahan, melewati rintangan di perantauan.
Beripat memperkuat nyali orang Belitung untuk tak takut merantau ke berbagai pelosok negeri. Bagi keperluan wisata, beripat pun menarik. Namun, belum ada agenda tetap pertunjukan beripat di Belitung.

Gubernur Bangka Belitung, Rustam Effendi mengakui banyak tradisi kesenian yang perlu dibawa ke ranah publik. “Untuk pe ngembangan objek wisata, kami sudah mengalokasikan Rp3,3 miliar untuk promosi daerah.
Upaya memberdayakan masyarakat untuk mengangkat kembali atraksi budaya yang hampir punah termasuk di dalamnya,“ jelas Rustam.

Beripat memang mesti diselamatkan agar tak menyusul dul muluk, atraksi seni teater rakyat Melayu yang hampir ditelan bumi.

Beripat sesungguhnya bukan cuma penanda kejantanan, melainkan tanggung jawab yang diemban laki-laki. Wujudnya, mengayomi keluarga dan berperilaku jujur! (M-3) Media Indonesia, 27/04/2014, halaman : 10

This entry was posted in Travelling and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *