Silat Kata Membingkai Cerita ala Minang

Kepiawaian orang Minang dalam mengolah kata kata berhulu dari surau dan lepau, serta ternukil saat mereka berjualan di pasar-pasar tradisional dan berdiplomasi dalam bentuk yang lebih elegan.
PADA lini pasar tradisional, orang Minang boleh terkenal. Di sana, orang Minang dinilai piawai menarik pembeli lewat sorak-sorai mengobral kata, seakan menjadi bumbu atau magnet supaya dagangan mereka laris manis.

Di tingkat yang berbeda, etnik Minang pun melahirkan diplomat ulung dan menjadi penentu bangsa. Agus Salim, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir pantas kiranya disebut penancap tiang diplomasi Indonesia.

Lalu pada generasi berikutnya hadir nama-nama seperti Moh Rasjid, Hasjim Djalal, Boer Mauna, Alwis Azizat Moerad, Misma, Zubir Amin, dan Dino Patti Djalal. Hasjim Djalal, misalnya, gigih menyuarakan dan mempertahankan Deklarasi Juanda di pentas internasional sehingga luas Indonesia yang semula 2 juta kilometer persegi menjadi 5,8 juta kilometer persegi dengan pulau-pulau menjadi kesatuan yang utuh.

Sekilas Info : Rental Mobil Padang, Pariwisata Bukittinggi.

Diplomat yang lahir dari rahim Minangkabau sedikit banyak bersentuhan dengan inkubator bernama surau dan lapau–sebutan Minang untuk warung–alias lepau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dua kutub unsur berdirinya sebuah nagari itu memainkan peran dalam menjaga Minang sebagai etnik oral, penuh wacana kata-kata, dan dialektika dalam bentuk mengasah hingga menjadi tajam.

Budayawan Minangkabau Musra Dahrizal mengatakan kepiawaian orang Minang dalam mengolah katakata bermula dari surau. Di sana, pidato adat diajarkan selain mengaji dan bersilat tentunya.

Mula-mula secarik kertas diberikan ke setiap pembelajar lalu mereka disuruh menghafal dan selanjutnya diberi kesempatan unjuk gigi dalam diskursus adat dan dialektika isu teraktual terkadang.

“Silat kata adalah anatomi pidato (batang tubuh pidato). Kalau tidak paham dengan batang tubuh pidato, kadang pidato tidak masuk akal dan menjemukan. Kata kunci silat kata adalah alur terukur dan runut,“ jelas pria yang biasa disapa Mak Katik itu.

Silat kata berbeda dengan silat lidah dalam makna yang lebih spesifik.
Silat kata memiliki makna positif. Ia dipakai ninik mamak (pemimpin kaum atau suku) dalam dialog adat atau retorika di hadapan kaumnya dan dalam bertutur ke kemenakan.

Mak Katik memberi kias silat kata dalam dialek Minang, basilek di ujung lidah, malangkah ka pangka karih, maniti di mato pedang. Artinya, awal sebuah persoalan, sebelum keris dicabut, dan pedang dihunuskan, bersilat kata-kata terlebih dahulu.

“Bersilat di ujung lidah dulu, baca persoalan. Di sana ditimbang kaji buruknya, kalau enggak ya diadu runcingnya pedang dan tajamnya keris,“ imbuhnya.

Biasanya persoalan lebih terselesaikan dengan kata-kata ketimbang senjata. Maka huru-hara konflik fisik di Minang lebih minim jika dibandingkan dengan etnik lain.
Ragam cerita Silat kato alias silat kata dalam persoalan adat dikenal dengan `petatah-petitih’ atau bakola. Dalam petatah-petitih, konflik sengaja dirawat dengan maksud dikemukakan, dikaji, diperdebatkan, hingga akhirnya melahirkan sebuah rumusan yang disepakati bersama.

Misalnya saja dalam sebuah kenduri atau pesta perkawinan. Para ninik mamak, baik dari mempelai laki-laki maupun mempelai wanita, akan adu urat leher secara bergantian dalam bahasa kias dan satire yang bisa menghunjam perasaan dan `menelanjangi’ segala pokok persoalan yang dirasa. Alhasil, debat dalam tatanan silat kata menjadi olah lidah dan mulut yang bisa dikatakan lebih tajam jika dibandingkan dengan belati sekalipun.

Kebiasaan-kebiasaan itu juga terpatri di lepau atau kedai kopi. Di situ, suatu istilah yang dinamakan `silat lidah’ mendapat tempatnya. Dialektika tak beraturan tanpa moderator yang terlegitimasi termanifestasi da lam riak-riak debat kusir yang ujung pangkalnya pasti. `Silat lidah’ di lepau mengunyah beragam isu dan persoalan lalu dimuntahkan dalam riak-riak kata seperti debat kusir.

Mereka berebut bicara dari perspektif adat, ekonomi, agama, politik, sosial, yang terkadang dilakukan dengan bahasa-bahasa yang kerap dipakai praktisi sekalipun. Tak mengherankan bila cerita berkembang dan terhipnosis dalam ruang yang lebih luar seperti berkeliling dunia. Dari cerita di sudut pedalaman Padang Pariaman hingga tiba-tiba juga membicarakan perompak di Somalia.

Yang dibicarakan bukan hanya `gosip’ seputar kampung, melainkan juga menjadi khazanah mencari pekerja untuk ke sawah, bertukang, atau yang bisa memanjat kelapa.
Semua terakumulasi dalam bahasa tutur yang tidak jarang satire dan mengiris-iris perasaan.

Silat lidah juga berkecamuk di saat memainkan batu domino dan kartu remi. Sekali-sekali penjaga lepau pun meleburkan diri dalam arus debat.

M Nasruddin Anshoriy Ch dan Djunaidi Tjakrawerdaya, dalam buku Jejak Dokter Pejuang dan Pelopor Kebangkitan Nasional terbitan 2008, pernah menyinggung budaya Minang yang melahirkan tradisi petatah-petitih umumnya tidak hanya bernilai seni retorika, tetapi juga latihan berpikir dan akumulasi pengetahuan lokal yang unik.

Karena itu, di Minang, mulut dan lidah tidak hanya berfungsi sebagai indra pengecap selera masakan yang membuat berkembangnya aneka makanan khas Minang. Lebih luas lagi, itu juga sebagai sebuah lembaga pemikiran. (M-1/MEDIA INDONESIA,15/03/2014)

This entry was posted in Travelling and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *