Reklamasi Losari Cegah Rob sejak Dini

Anjungan Pantai Losari dibangun sebagai model mitigasi kota pantai pertama di Indonesia. Meski anjungan tersebut merupakan mitigasi, masyarakat tetap bisa menikmati ruang terbuka di tepi pantai untuk bersosialisasi. Pemerintah Kota Makassar masih akan menyempurnakan tanggul tersebut sekitar 4-5 tahun mendatang. SORE itu, angin semilir bertiup.

Sejumlah anak bermain mobil mobilan di sepanjang jalan di tepi Pantai Losari. Ada juga sebagian orang fokus menatap kail pancing, siapa tahu ada ikan yang memakan umpan yang dipasang di kail.

Ada yang berbeda di Pantai Losari, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sore itu. Pantai yang menjadi salah satu ikon Kota Makassar itu dahulu dikenal sebagai tempat hiburan atau berkumpulnya warga sambil menikmati jajanan yang digelar pedagang kaki lima di sepanjang pantai.

Sekilas Info mengenai transportasi nyaman yaitu rental mobil Makassar.

Dahulu, pantai sepanjang sekitar 1,2 kilometer dan terletak di sepanjang Jalan Penghibur itu pernah dijuluki sebagai pantai dengan meja terpanjang di dunia. Istilah lainnya restoran terpanjang di dunia.

Pasalnya banyak warung tenda yang dipasang di tepi pantai. Mereka menjual bermacam makanan. Pengunjung bisa menikmati makanan sambil melihat keindahan pantai, termasuk saat matahari akan terbenam.

Namun, dampak banyaknya warung makan, pantai menjadi kotor dan bau. Sampah bekas makanan dibuang ke laut. Pencemaran laut tidak bisa dihindari. Kini semua itu tinggal kenangan. Pemerintah Kota Makassar telah mempercantik Pantai Losari dengan membuat empat anjungan masing-masing seluas 100 ribu meter persegi. Kondisi pantai pun kini lebih indah, bersih, bebas polusi, dan nyaman dikujungi.

Pada umumnya para pengunjung mendatangi Pantai Losari antara pukul 15.00 dan 21.00 Wita. Mereka berjalan-jalan di sepanjang jalan yang sudah dibuat khusus agak jauh dari pantai. Hasil reklamasi itulah yang menjauhkan masyarakat dengan bibir pantai. Para pedagang yang berjualan pun kini ditempatkan agak jauh dari pantai. Kebanyakan para pedagang yang berjualan di sekitar Pantai Losari menjual pisang epe atau pisang bakar.

Masyarakat hanya bisa bersentuhan dengan air laut saat naik perahu bebek karena bisa keliling Pantai Losari. Kemudian di sebelah anjungan pantai Losari ada anjungan lain bernama Bugis Makassar dan bertuliskan `City of Makassar’ yang diresmikan akhir 2012. Anjungan tersebut dipenuhi dengan miniatur becak, perahu pinisi, dan sejumlah patung pahlawan nasional. Di anjungan itulah berdiri masjid terapung Amirulmukminin.

Tidak ketinggalan ada anjungan Toraja Manadar yang baru diresmikan akhir 2013. Di anjungan tersebut dimunculkan khazanah etnik Toraja dan Mandar dengan tedong bonga (kerbau belang).

Pada hari Minggu, kawasan sepanjang Pantai Losari dimanfaatkan sebagai arena car free day. Mitigasi bencana Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin menjelaskan pembangunan anjungan-anjungan di sepanjang bibir pantai barat Losari tidak mudah direalisasikan.

“Dulu banyak yang menentang karena dikira hanya menimbun pantai dan merusak habitat laut. Mereka tidak tahu jika kaki lima yang berjejer saat ini mencemari pantai dan ancaman abrasi di depan mata. Ini yang mengakibatkan longsoran dan berbahaya bagi keberadaan Kota Makassar,“ ungkapnya. Tidak hanya itu, semua buangan kota, ada sekitar 14 blok mengalir dan bermuara di Losari sehingga memang butuh penataan. “Tapi konsepnya, Losari ini tetap jadi ruang publik dan bisa memecahkan masalah yang ada.

Maka saat itu dibuatlah sayembara bagaimana konsep pembangunan di Losari, karena tidak gampang waktu itu merelokasi pedagang kaki lima yang ada, dan hasilnya seperti sekarang ini, meski sempat ditentang,“ tambah Ilham.
Biaya membuat anjungan pun yang pada awalnya hanya Rp70 miliar naik hampir dua kali lipat menjadi sekitar Rp106 miliar. Dana itu diambil dari APBN dan APBD.

Reklamasi Pantai Losari merupakan salah satu hadiah untuk masyarakat Makassar dari Ilham Arief Sirajuddin yang akan meletakkan jabatan sebagai wali kota yang diembannya selama dua periode pada Mei mendatang.

Penggantinya, wali kota terpilih, Mohammad Ramdhan `Danny’ Pomanto, yang juga konsultan tata ruang Kota Makassar sekaligus staf ahli wali kota, menyebutkan pembangunan anjungan-anjungan di sepanjang bibir Pantai Losari merupakan cikal bakal UU No 27 Tahun 2007 tentang Mitigasi Bencana dan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

UU tersebut juga mengatur masalah sempadan pantai dan kerawanan wilayah pesisir terhadap bencana. “Keberadaan anjungan ini kemudian menjadi konsep mitigasi struktural yang pertama di Makassar dan di Indonesia,“ ujar Danny Pomanto.

Model anjungan tersebut telah menjadi prototipe konsep mitigasi di Indonesia.
Ada empat konsep mitigasi kota di pesisir pantai, yaitu pindahkan kota, naikkan kota, membuat tembok tinggi, dan reklamasi. Karena memindahkan, menaikkan kota, dan membuat tembok tinggi tidak mungkin, maka Pemkot Makassar melakukan reklamasi.

Danny Pomanto menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian Universitas Hasanuddin, intrusi air laut saat ini 40 cm di Pantai Losari. Kemudian berdasarkan data UNDP, pada 2100 air laut akan naik 200 cm. Kemudian penelitian terbaru lainnya menyebutkan pada 2050, air laut sudah naik 114 cm. Karena itu, kota-kota di pinggir pantai harus mengantisipasi sejak dini agar tidak terjadi banjir rob.

Meski anjungan tersebut merupakan mitigasi, masyarakat tetap bisa menikmati ruang terbuka di tepi pantai untuk bersosialisasi. Pemerintah Kota Makassar masih akan menyempurnakan tanggul tersebut sekitar 4-5 tahun mendatang.

“Memang belum sempurna karena saluran air yang mengarah ke laut belum dipindahkan. Makanya dalam waktu dekat akan dilakukan perbaikan saluran air dengan membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) agar pembuangan tidak lagi ke laut. Seperti sekarang ini jika pukul 09.00-16.00 Wita, air laut terlihat kotor karena pembuangan masih ke laut,“ ungkapnya. (N-3/Media Indonesia,12/03/2014)

This entry was posted in Travelling. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *