Kalimantan Timur: Transportasi Lokal, Festival, dan Simbol

Sebagai bentuk menjaga tradisi kapal di Kaltim, ada perhelatan festival tahunan Iraw Tengkayu di Tarakan. Festival tersebut berupa parade tradisi masyarakat mengarak perahu hias berkeliling kawasan.
PERAHU di daerah Kalimantan Timur (Kaltim) mempunyai bermacam-macam bentuk. Ada yang berupa jongkong (jukung/kano) yang dibuat dari satu batang kayu kuat dan papan-papan kayu tebal dengan bentuk besar.

Ada pula jongkong yang berbentuk pendek dan berbentuk panjang (ramping). Jongkong yang panjang biasanya dipergunakan untuk transportasi jarak sedang dari satu tempat ke tempat yang lain.

Sebagian besar masyarakat di sekitar daerah sungai masih menggunakan jongkong sebagai sarana transportasi untuk menjajakan barang dagangan di tempat-tempat berlangsungnya pasar terapung.

Pasar terapung yang terdiri dari ratusan jukung terdapat di beberapa tempat di daerah Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, dan lain-lain. Bahkan jongkong atau kano dapat dijumpai pula di kawasan luar Indonesia seperti di Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina.

“Saat liburan kemarin, saya pulang ke Kaltim dan masih menggunakannya saat ke pasar.
Saudara-saudara saya memanfaatkan untuk berjualan di pasar (terapung),“ ujar Lidwina Lirung, pramubudaya dan koreografer, di Jakarta, pekan lalu.

Sebagai bentuk menjaga tradisi kapal di Kaltim, ada sebuah perhelatan festival tahunan Iraw Tengkayu di Tarakan. Pada festival itu, atraksi utama yang dinantikan masyarakat dan wisatawan ialah padaw tuju dulung.

Parade itu ialah tradisi masyarakat mengarak perahu hias keliling kota. Pada bagian bawah perahu dipasang beberapa bilah bambu yang digunakan para pemuda untuk mengangkut padaw tuju dulung.

Perahu hias mempunyai tiga cabang yang disebut dengan haluan. Haluan pada bagian tengah dibuat tiga tingkat. Dua haluan lainnya yang ada di kanan dan kiri perahu dibentuk menjadi dua tingkat.
Lambang Jika dihitung, semua tingkat yang ada di tiap haluan total berjumlah tujuh. Angka tujuh itu melambangkan jumlah hari dalam seminggu yang digunakan sebagai perlambangan perjalanan kehidupan manusia yang harinya berulang setiap seminggu sekali.

Padaw tuju dulung yang diangkut para pemuda dicat dalam tiga warna yang berbeda, yaitu kuning, hijau, dan merah. Bagian dari perahu paling atas mempunyai cat yang berwarna kuning.

Dalam budaya suku Tidung, warna kuning melambangkan kehormatan atau sesuatu yang ditinggikan. Oleh karena itulah, warna kuning berada pada bagian tertinggi dari padaw tuju dulung, sedangkan dua warna lainnya berada di bawahnya.

Pada bagian tengah, ada lima tiang. Jumlah tiang tersebut sebagai perlambangan salat lima waktu yang dilakukan umat muslim dalam seharinya. Tiang itu digunakan sebagai tempat untuk mengikat kain yang digunakan sebagai atap. Kain yang digunakan sebagai atap ini disebut dengan pari-pari. Tiang ini juga digunakan sebagai tempat untuk mengikat kain yang dihubungkan ke haluan perahu yang ada di kanan dan kiri.

Pada bagian tengah perahu tepat di bawah pari-pari terdapat tempat yang mempunyai bentuk seperti rumah. Tempat itu dilengkapi dengan atap bertingkat tiga (meligay). Di bawah meligay terdapat pintu pada keempat sisinya.
Biasanya, di bawah meligay itulah diletakkan sesajian yang berisi makanan yang selanjutnya akan dilepaskan di laut. “Tradisi penggunaan kapal itu sudah ada sejak lama karena daerah sungai. Ini bagian dalam adat istiadat yang tak terpisahkan,“ ujar sastrawan dan budayawan Korrie Layun Rampan. (Iwa/M-1/ Media Indonesia, 22/02/2014)

This entry was posted in Travelling and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *