Jalur Sumatra Barat Riau Lumpuh 10 Jam

Jalur transportasi darat penghubung Sumatera Barat dengan Riau, Sabtu (28/12), lumpuh total selama hampir 1o jam. Ini terjadi akibat banjir yang merendam Nagari Pangkalan dan longsor yang menghantam Nagari Manggilang, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat.
Wakil Bupati Limapuluh Kota Asyirwan Yunus mengatakan bahwa banjir di Nagari Pangkalan merendam dua jorong (tingkat dusun) yang berada di pinggir jalan negara Sumbar Riau. Yakni Jorong Sopang dan Jorong Pauah Anok. Banjir terjadi akibat meluapnya arus Batang (Sungai) Manggilang. “Batang Manggilang kembali meluap, setelah hujan deras mengguyur Kecamatan Pangkalan sepanjang Jumat (27/12) malam,” kata Asyirwan Yunus didampingi Kepala BPPD Limapuluh KOta Irfan AM dan Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Firmasyah, kepada RPG di lokasi banjir.

Wali Nagari Pangkalan, Deswanto, menyebutkan banjir di Jorong Sopang dan Jorong Pauah ANok terjadi sekitar pukul 02:30 WIB. LUapan air yang naik ke pemukiman penduduk, mencapai setinggi pinggang lelaki dewasa. Air baru surut sekitar pukul 12:30 WIB. “Hampir 10 jam lamanya,” kata Deswanto

Saat banjir terjadi, ratusan penduduk menjadi panik dan berhamburan ke luar rumah. “Walau kampung sudah langganan banjir, tapi banjir dini hari tadi, membuat kami panik. Apalagi air naik ke kawasan pemukiman begitu cepat,” kata Kepala Jorong Sopang Syafrizal dan Kepala Jorong Pauah Anok Aripan, secara terpisah.
Selain merendam pemukiman penduduk, air Batang Manggilang juga meluap sampai ke badan jalan negara Sumatra Barat – Riau. Membuat kendaraan roda empat dan roda dua, tidak bisa lewat sama sekali. Sehingga terjadi antrean sepanjang hampir 15 kilometer.

“Antrean kendaraan terjadi mulai dari kawasan Lubuakjantan, Nagari Manggilang sampai ke kekawasan Kotopanjang, dekat areal milik PT Sartika. Dalam antrean itu, sejumlah mobil dan sepeda motor yang berada di dekat luapan banjir, sempat mengalami mati mesin,” kata Syafrizal yang juga anggota Satgas Bela Negara Pangkalan.

Kasat Lantas Polres Limapuluh Kota Iptu Yogi menambahkan bahwa antrean akibat banjir memang mencapai 15 kilometer. Tapi arus lalu lintas yang benar-benar lumpuh atau tidak bisa dilewati hanya beberapa jam. Setelah itu, kendaraan sudah dapat lewat kembali, dengan sitem buka tutup.

Walau tadi malam, arus lalu lintas sudah mulai normal dan kendaraan tidak mengantre lagi, Kepolisian Resort Limapuluh Kota, tetap meminta pengemudi di jalur Sumbar-Riau agar mewaspadai longsor dan banjir susulan yang berpeluang terjadi, mengingat curah hujan di kawasan Pangkalan masih cukup tinggi. “Saat ini, arus lalu lintas di Jalan Sumbar-Riau memang sudah normal kembali. Banjir yang menggenangi badan jalan di Pangkalan sudah menyusut. Material longsor di Manggilang dan Koto Alam sudah dibersihkan. Tapi pengemudi tetap diminta waspda,” kata Kapolres Limapuluh MKota AKBP Cucuk Trihono kepada RPG.

Sampai kemarin sore, total kerugian akibat banjir di Kecamatan Pangkalan masih didata BPBD Limapuluh Kota yang turun bersama Taruna Siaga Bencana (Tagana), anggota Koramil dan Polsek Pangkalan. Khusus untuk data rumah penduduk yang terendam air, masih simpang siur.

Di Nagari Pangkalan, Kepala Jorong Sopang Syafrizal dan Kepala Jorong Pauah Anik Aripon menyebutkan, rumah yang teredam sekitar 101 unit. Tapi, BPBD memperkirakan hanya 60 unit. “Itupun hanya air lewat. Tidak banyak yang mengalami kerusakan.” kata Kabid Penanggulangan Bencana BPBD, Firmansyah.

Sedangkan di Nagari Manggilang rumah penduduk yang terendam banjir, menurut wali nagari setempat, Ridwan mencapai 20 unit. “Rumah-rumah yang terendam itu berada di Jorong Pasa. Umumnya, warga miskin,” kata Ridwan saat dihubungi, kemarin senja.

Disamping merendam rumah penduduk, banjir juga merusak kolam ikan, areal perkebunan dan kandang ternak. “Cukup banyak hewan ternak penduduk yang mati. Di Jorong Pauah Anok saja ada 9 ekor kambing dan ratusan ekor ayam. Tapi untuk total keseluruhannya masih didata. BPBD juga mendirikan posko disini,” imbuh Firmansyah.

Salah seorang pengendara tujuan Bukittinggi, Ibnu Masud, terpaksa balik arah ke Pekanbaru dan membatalkan niat untuk melanjutkan perjalan. Ibnu Masud sendiri terjebak selama dua jam pada jarak 1,5 kilometer dari titik jalan putus sebelum akhirnya pulang ke Pekanbaru.
“Sekitar pukul 08:00 WIB saya sampai di Pangkalan. Antrean sudah panjang. Saya berada 1,5 kilometer dari titik jalan putus. Antrean sudah berlapis pula. Saya bertanya pada orang-orang disana, katanya jalan baru bisa dilewati pukul 14:00 WIB. Akhirnya saya putuskan kembali ke Pekanbaru tepat pukul 10:00 WIB. Saat saya sampai di Bangkinang atau sekitar pukul 12:30 WIB, jalan sudah bisa dilalui. Rata-rata orang menunggu sampai 5 jam,” kata Ibnu Masud kepada Riau Pos tadi malam.

Sementara longsor yang menerjang Nagari Manggilang dan Nagari Kotoalam, berdasarkan pantuan Padang Ekspress (Riau Pos Grup) mencapai 8 titik. Disetiap titik, material longsor tidak banyak. Hanya saja, ada beberapa pohon yang ikut tumbang bersama material longsor, sehingga menimbun badan jalan, seperti di kawasan Manggilang.
Kemarin sore, material longsor dan pohon tumbang yang berada di badan jalan, sudah dibersihkan oleh masyarakat dibantu personel POLRI, TNI, BPBD dan Tagana.

Distribusi Sembako Tersendat.
Banjir dan longsor yang terjadi di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota juga membuat pasokan Sembilan Bahan Pokok (Sembako) seperti beras, sayur-sayuram dan telur dari Sumbar menuju Riau sempat tersendat.
“Rencana tadi pagi awak mau mengantar beras ke Pekanbaru, namun karena ada longsor, berasnya tak jadi awak kirim. Baru malam ini rencana berangkat lagi. Tapi terus terang masih takut ancaman banjir,” kata si On (42), toke beras di Kabupaten Limapuluh Kota.

Hal senada juga disampaikan Indra (38) supir L300 yang mengangkut telur dari Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota, menuju Pekanbaru. “Sore ini saya mau berangkat ke Pekanbaru, mengantar telur. Tapi karena ada longsor dan macet, mungkin, besok baru berangkat,” kata Indara di kawasan Lubuakbangku, Harau.

Berdasarkan catatan Pemkab Limapuluh Kota, tiap hari pada petani dan peternak di daerah tersebut memang selalu mengirim bahan-bahan kebutuhan sehari-hari untuk Riau. Bahkan khusus untuk telur ayam, pengiriman tiap hari ditaksir mencapai 2-3 juta butir telur ayam.
Tidak hanya proses distribusi Sembako dari Sumbar ke Riau yang tersendat akibar banjir di Kecamatan Pangkalan. Puluhan warga Riau yang menikmati libura natal di Bukittinggi, Sumatra Barat, juga terlambat sampai di rumah mereka, karena harus mengantre selama berjam-jam.
“Ini sudahnya, kalau lewat jalur darat. Pemandangan di jalan memang indah, bisa lihat Kelok Sembilan dan mampir di Lembah Harau. Tapi jalan sering banjir dan longsor,” kata AHmad, (42), warga Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru kepada RPG, saat beristirahat di kawasan Huluaia, Harau.

Ratusan Rumah di Rokan Hulu Terendam Banjir.
Sementara itu, hujan deras yang menguyur daerah Pasir Pangarayan Rokan Hulou mengakibatkan ratusan rumah di dua kecamatan, yakni Rambah dan Rambah Samo, Sabtu (28/12) dini hari terendam banjir. Ini diakibatkan tingginya intensitas curah hujan yang terjadi dalam tiga hari dan menyebabkan air sungai Kaiti dan Sungai Pawan meluap.
Hujan deras yang terjadi Jumat (27/12) malam hingga Sabtu (28/12) dini hari, yang menyebabkan di 6 desa yang tersebar di dua kecamatan, siang kemarin telah surut. Banjir singgah lalu nitu, tidak ada korban jiwa hanya saja masyarakat mengalami kerugian materi, akibat rumah mereka terendam banjir.
Ketinggian air yang merendam rumah penduduk di dua kecamatan rata-rata 50 centimeter hingga 1 meter. Namun warga yang bermukim di daerah aliran sungai (DAS) ketinggian air mencapai 1,5 meter.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rokan Hulu jumlah rumah penduduk yang terendam banjir di dua kecamatan sebanyak 278 data korban banjir.
Kecamatan Rambah, banjir merendam rumah penduduk di Dusun Pawan Hilir Desa Rambah Tengah Hulu (RTH) sebanyak 130 Kepala Keluarga (KK) dan Pawan Hulu 94 KK dengan ketinggian air 1 meter lebih.

Kemudian Dusun Tanjung Pauh Desa Tanjur Belit sebanyak 37 KK. Sedangkan di Desa Kto Tinggi, banjir merendam rumah penduduk di Dusun Luba Hulu 25 KK. Dusun Kaiti III Desa Rambah Tengah Barat (RTB) sebanyak 3 KK.
Sementara di Kelurahan Pasirpangarayan tepatnya dilingkungan Tanjung Harapan (Kampung Terendam) 116 KK. Untuk di Kecamatan Rambah Samo, banjir merendam rumah penduduk di Dusun Danau Sati Desa Rambah Samo Barat sebanyak 16 KK.

“Data sementara 278 rumah penduduk di dua kecamatan (Rambah-Rambah Samo) teredam banjir Sabtu (28/12) dini hari hingga pagi. Seperti sebelumnya, banjir di Rambah dan Rambah Samo sifatnya banjir singgah lalu. Bila pagi banjir siangnya sudah surut kembali. Namun bila curah hujan tinggi pada malam hari paginya kembali banjir,” ungkap Kepala BPBD Rokan Hulu, Aceng Herdiana ST MM kepada Wartawan, Sabtu (28/12) terkait rumah penduduk yang terendam banjir di Rokan Hulu.

Menurutnya banjir yang terjadi du dua kecamatan khususnya Kecamatan Rambah akibat meluapnya Sungai Kaiti dan Sungai Pawan akibat tingginya curah hujan dan volume air naik.

Sumber Media Cetak : Riau Pos, 29 Desember 2013, Halaman 1 dan 9

This entry was posted in News, Transportasi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *