Solo: Melanggar Puluhan Mobil Di Gembok

Solo – Puluhan mobil digemnok petugas Dishubkominfo Surakarta dalam razia di sejumlah titik jalan, Sabtu (16/11). Penggembokan dilakukan karena masih banyak pelanggaran terhadap larangan parkir. “Kami tak habis pikir sikap masyarakat. Sejak Perda 1/2013 ditetapkan sekitar Juli lalu ditambah sosialisasi gencar, masih ada saja yang nekat melanggar larangan parkir,” papar Kasubag Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perparkiran, Henry Satya Negara di sela-sela razia.

Maka kemarin, Henry langsung memimpin sendiri razia larangan parkir dengan menyisir Jalan Kol Sutarto, Jl Ki Hajar Dewantara, Jl Ir Juanda, JL RE Martadinata, Pasar Gede dan Jl Suryo Pranoto. Dibantu sejumlah petugas kepolisian, Denpom TNI, Satpol PP operasi ditujukan terhadap titik-titik yang kerap terjadi pelanggaran larangan parkir.
Salah satunya di Jl Kol Sutarto atau sepanjang jalur lambat depan RSUD Dr Muwardi. Di lokasi tersebut petugas cukup banyak menindak pelanggar. Hasilnya efektif, sebanyak 22 mobil terdiri atas 10 taksi dan 12 mobil pribadi digembok. Satu juru parkir (jukir) liar dan dua jukir tanpa dilengkapi Kartu Tanda Anggota (KTA) juga ditangkap dan diberikan binaan.

“Sepanjang jalur ini cukup jelas dilarang parkir. Sudah dilengkapi pula dengan rambu larangan, tetap saja ada yang nekat. Apalagi ini di depan rumah sakit, yang seharusnya bebas dari parkir mobil,” tutur dia.

Henry, menjelaskan penindakan dilakukan karena ada bukti pelanggaran UU 22/2009 dan Perda 1/2013. Terhadap pengemudi mobil yang digembok, petugas memberikan dua unit surat, yakni berita acara penggembokan dan surat tilang dari kepolisian.
“Gembok bisa dibuka setelah pelanggar membayar biaya penggembokan Rp 100 ribu. Setelah itu dia harus menjalani sidang di pengadilan,” lanjutnya.

Khairani, salah satu pelanggar mengaku tak tahu jika di kawasan itu daerah larangan parkir. Sebab, dia tidak melihat ada rambu larangan parkir yangterpasang. Namun, setelah ditunjukkan petugas lokasi rambu larangan yang ternyata tertutup pohon, akhirnya calon dokter berparas cantik itu pun pasrah ketika mobilnya digembok petugas.
“Seharusnya rambu itu dipasang ditempat yang mudah dilihat. Jangan tertutup pohon,” timpalnya kesal.

Sumber Media Cetak : Suara Merdeka, 17 November 2013, Halaman 15

This entry was posted in News and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *