Siapkan Segera Bandara Karawang

Angka dan data mengenai kesibukan Bandara Soekarno-Hatta sebenarnya sudah memerlukan jawaban segera sebagai solusi untuk memberikan pelayanan terbaik dan berkelas dunia bagi pengguna jasa transportasi udara komersil di Indonesia. Statistik mengenai pintu gerbanga utama internasional di Tanah Air itu membuat kita bangga sekaligus was-was. Pasalnya, dengan kondisi saat ini pergerakan penumpang di bandara terbesar di Indonesia itu sudah menembus sedikitnya 51,5 juta per tahun.

Padahal kapasitas tampungnya hanya sanggup melayani sekitar 22 juta orang pertahun. Akibatnya, beban yang sangat berlebih ini sudah menimbulkan komplikasi yang amat serius pula, karena yang dipertaruhkan adalah keselamatan penumpang.
Itulah yang menyebabkan pelayanan dan kegiatan operasional bandara Soekarno-Hatta diwarnai sederet kasus yang sangat layak dijadikan pelajaran berharga bagi seluruh pemangku kepentingan yang berkecimpung di industri transportasi nasional tentang komitmen dan visi jangka panjang mengenai layanan penerbangan berkelas dunia.

Lonjakan penumpang angkutan udara di kawasan Asia Pasifik dalam satu dekade mendatang merupakan sebuah fenomena tersendiri yang patut dicermati oleh pemerintah dan operator bandara. Bukan bermaksud menakut-nakuti tetapi muncul sinyalemen kuat bahwa kenaikan jumlah penumpang yang sangat tinggi tersebut berjalan tanpa diimbangi dengan kesiapan sepada oleh pemerintah dan kalangan operator bandara.

Pasar Asia diakui memang ajaib, Internasional Air Transport Ascociation memperkirakan bahwa kawasan ini akan menangani sedikitnya 33 persen penumpang angkutan global pada 2016. Dengan demikian jelas sudah duduk persoalannya bahwa bandara Soekarno-Hatta tak mungkin lagi sendirian memikul beban. Akhirnya, siapa yang akan menjadi pendamping bandara tersibuk ke-12 dunia itu kian jelas. Bandara Karawang ditetapkan sebagai penopang dan masuk dalam prioritas pembangunan.

Ketegasan pemerintah ini melegakan semua pihak yang selama ini stress berat melihat kondisi Soekarno-Hatta yang sering diterpa sejumlah masalah. Rapor tersebut hendaknya benar-benar menjadi pertimbangan utama pemerintah untuk segera menyiapkan proyek Bandara Karawang senilai Rp 65 Triliun itu secara cermat dan matang, dengan mengkaji semua aspek yang tidak hanya terkait dengan perpindahan manusia dan barang secara masih tetapi juga persolan mendasar seperti ekologi, lingkungan, tata ruang, relokasi warga hingga masalah kompensasi.

Kita merasa lega pula karena ternyata studi pembangunan bandara baru tersebut sudah dilakukan oleh Jepang melalui Japan Internasional Cooperation Agency meski detailnya belum diketahui. Oleh karena itu, hasil studi ini perlu diketahui secara luas oleh publik yang mewakili berbagai kalangan agar bisa diperoleh masukan berharga mengenai rencana pembangunan proyek Bandara Karawang. Dan karena pemerintah sudah menetapkan sebagai prioritas tahap-tahap pembangunan fisik hendaknya dibentangkan secara jelas dan transparan.

Pemerintah dan pengelola bandara kini harus berpacu dengan waktu dan membuktikan kinerjanya bahwa mereka siap memberik dukungan sepenuhnya agar semua pemangku kepentingan dapat bersama-sama lepas landas dan ikut terbang menikmati kegairahan yang melanda industri penerbangan.

Tak ada pekerjaan pelik dan berat yang tidak bisa dituntaskan bila semua pihak mengikuti semua aturan main dan menjunjung tinggi good governance dalam segala aspek baik dari sisi regulasi bisnis penerbangan, implementasi aturan main seputar penggunaan lahan ntuk proyek pembangunan infrastuktur hingga partisipasi yang lebih luas dari sektor swasta dalam proyek pembangunan dan pengelolaan bandara.

Di satu sisi kita patut gembira karena bisnis penerbangan nasional sangat bergairah dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Optimisme ini diperkirakan berlanjut pada tahun depan yang menempatkan Indonesia sebagai pasar terbesar ke-9 di dunia untuk penerbangan domestik dan ke-6 untuk Internasional.

Di depan mata sudah terbentang fenomena industri penerbangandengan pertumbuhan angkutan udara yang jauh lebih besar dari apa yang dibayangkan. Dengan demikian kita tidak boleh telat mengantisipasi dan berbenah diri agar penyediaan seluruh infrastruktur dan sumber daya pendukung lainnya benar-benar siap terbang ketika dibutuhkan.

Sumber Media Cetak : Bisnis Indonesia, 20 November 2013

This entry was posted in Transportasi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *