Pasca Terjangan Badai Eropa, Layanan Transportasi Kembali Normal

Layanan transportasi darat, laut dan udara di negara-negara Eropa bagian barat dan utara yang diterjang badai kembali normail mulai Selasa (29/10/2013). Namun, lebih dari 600.000 warga masih hidup tanpa pasokan listrik karena kerusakan jaringan setelah terjadi badai dahsyat, pada Senin (28/10/2013).

Dua warga dilaporkan tewas, masing-masing satu di Jerman dan Inggris. Hingga Rabu (30/10), jumlah total warga Eropa yang tewas akibat terjadi badai mencapai 15 orang, tujuh diantaranya di Jerman. Para petugas juga melakukan operasi pembersihan jalan dari pohon-pohon tumbang, baik di Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Belgia, Irlandia dan Denmark. Layanan transportasi khususnya kereta kembali beroperasi normal.

Operator kereta api di Inggis memutuskan kembali mengoperasikan layanan mulai Selasa siang, setelah pasokan listrik kembali normal dan petugas membersihkan ratusan pohon yang tumbang dan menutupi rel. Bandara Heathrow, London, juga beroperasi normal setelah sebelumnya menunda ratusan jadwal penerbangan.

Juru bicara Asosiasi energi Networks Inggris dan Irlandi mengumumkan pihaknya telah berupaya maksimal untuk memulihkan pasokan listrik mulai Selasa. Namun masih ada 61.000 rumah yang belum memperoleh pasokan listrik karena kerusakan jaringan. Sebelumnya, sebanyak 600.000 rumah di Inggris mengalami pemadaman listrik.

Sementara pemerintah Prancis melaporkan, sekitar 75.000 rumah di bagian utara negara itu, mengalami pemadaman listrik sejak Senin malam. Hingga Selasa, sekitar 42.000 rumah belum mendapat aliran listrik.

Hingga kini, petugas masih berupaya mencari para korban yang dilaporkan hilang tersapu ombak. Tim penyelamat di Inggris memutuskan menunda pencarian terhadap seorang remaja yang dilaporkan tersapu ombak, di Newhaven, pantai selatan negara itu.

Sementara itu, 67 negara diprediksi harus merevisi target pertumbuhan ekonomi karena masuk dalam daftar negara-negara yang menghadapi resiko tertinggi efek perubahan iklim. Ke-67 negara itu, dari output ekonomi dunia yang nilainya mencapai US$ 44 triliun.

Berdasarkan hasil kajian Maplecroft, negara-negara yang menghadapi resiko tertinggi efek perubahan iklim khususnya Asia yang justru menjadi trigger pertumbuhan ekonomi dunia, seperti Cina yang berada di peringkat 61 dan Indonesia di peringkat 20.

Sementara Amerika Serikat (AS) dan Eropa masuk kategori risiko rendah karena memiliki anggarang cadangan yang cukup besar untuk antisipasi bencana. Meski demikian, jumlah negara bagian di AS, khususnya di pesisir Florida, Lousiana, Georgia dan Nort California masuk kategori rentan karena berpotensi dihantam badai dan gelombang laut.

“Pertumbuhan ekonomi global terancam karena banyak negara-negara yang berkembang dan pertumbuhannya signifikan justru rentan terhadap bencana akibat perubahan iklim” demikian hasil kajian Maplecroft yang dikutip AFP.

Hasil kajiajn Maplecoft juga memperhitungkan risiko perjalanan wisata ke negara-negara yang terancam perubahan iklim ekstrim Ada 139 negara yang masuk kategori “rentan” seperti India, Filipina dan Thailand.

Sumber Media Cetak : Suara Pembaruan, 30 Oktober 2013

This entry was posted in News and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *