Menuju Yogyakarta Kota Dunia

Yogyakarta berpotensi menjadi Kota Dunia yang sangat diperhitungkan jika memenuhi persyaratan baik dari segi tata ruang, infrastruktur, sistem sosial maupun kualitas budaya warganya. Berbagai perbaikan mengenai empat hal itu bisa dilakukan seiring dengan pelaksanaan Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dibiayai dana keistimewaan.

Wacana itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertopik Koordinasi dan Fasilitasi Perencanaan Program/ Kegiatan Keistimewaan di Tingkat Kota Yogyakarta, untuk perencanaan tahun 2014-2015. Kegiatan ini dihelat Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta tanggal 13 November 2013, di Hotel Phoenix Yogyakarta.

Problem tata ruang Yogyakarta berkaitan dengan perlindungan dan pelestarian atas nilai-nilai filosofis dan historis yang menjadi basis didirikannya Nagari Ngayogyakarta. Hadiningrat oleh Hamengku Buwono I. Tantangannya adalah dalam format negara modern Yogyakarta tetap memiliki karakter sebagai kota yogyakarta tetap memiliki karakter sebagai situs budaya. spiritual. Ini mencerminkan peradaban Yogyakarta yang sangat tinggi. Pembangunan yang berorientasi pada kekuatan kapitl dan budaya massa diharapkan tidak mencederai karakter dasar Kota Yogyakarta.
Diluar hal itu, tata ruang di Kota Yogyakarta dituntut memberi kenyamanan, kebersihan/ kesehatan lingkungan, keamanan dan keindahan.

Dalam hal infrastruktur Kota Yogyakarta masih membutuhkan banyak fasilitas fisik yang mampu mendorong perkembangan masyarakat baik secara sosial, budaya maupun ekonomi. Adapun dalam sistem sosial, Kota Yogyakarta masih ada peraturan daerah yang melindungi nilai-nilai budaya dan membangun sikap mental warganya terkait dengan etika publik.

Kualitas produk budaya masyarakat Yogyakarta ditentukan oleh tiga hal mendasar. Yakni budaya ide (nilai-nilai), budaya ekspresi/perilaku dan budaya material. Dalam hal ini masyarakat Yogyakarta memiliki keunggulan dan sekaligus menjadi keistimewaannya.

Keistimewaan DIY merupakan nilai lebih dan nilai pembeda berupa etika dan etos yang berbasis pada tata Nilai BUdaya Yogyakarta, yakni golong-gilig, sawiji, greget, sengguh oramingkuh, yang dapat diterjermahkan aktualisasi seluruh potensi SDM (golong-gilig) terpadu (sawiji) yang berbasis etos kerja tinggi (greget), kepercayaan diri (sengguh) dan konsistensi (ora mingkuh).

Tata nilai Budaya Yogyakarta dapat dirumuskan menjadi sistem nilai yang membangun sumber daya masyarakat yang berbasi pada budaya partisipasi (terbuka, transparan dan adil), integralisme, profesionalisme, integritas/ dedikasi, komitmen dan pluralisme.

Peran dan fungsi tata nilai Yogyakarta adalah membangun nilai-nilai kebudayaan (sosial, ekonomi, politik dan budaya) untuk menciptakan masyarakat berperadaan tinggi yang berbaso etika, etos kerja/ kreativitas, kemandirian dan kesejahteraan.

Pekerjaan besar bagi Pemerintah Kota Yogyakarta adalah membangun sumber daya masnusia (SDM) yang unggul. Prioritas pembangunan SDM itu meliputi tiga kelompok sasaran. Yakni, pertama para penyelenggaraan pemerintahan di Yogyakarta (DIY) untuk memiliki komitmen, integritas dan kapabilitas. Output diharapkan adalah pelayanan publik yang optimal baik di bidang sosial, ekonomi, budaya maupun politik.

Kelompok sasaran kedua, pera penyelenggara pendidikan. Mereka agen perubahan budaya. Dengan peningkatan kapasitas di bidang kebudayaan mereka mampu mentransfer ilmu pengetahuan dan mentransformasikan budaya anak didik untuk memiliki karakter.

Kelompok sasaran ketiga, masyarakat yang menjadi stake-holders penting budaya Yogyakarta. Dari program kapasitasi ini diharapkan terjadi peningkatan kualitas daya cipta, baik dalam budaya ide, budaya ekspresi maupun karya yang bersifat material.

Tak kalah penting adalah pembangunan infrastuktur kebudayaan (fasilitas-fasilitas fisik yang mendukung proses penciptaan, produksi gagasan/ nilai dan produksu karya0karya bersifat material). dan fasilitasi berbagai aktivitas seni budaya baik modern-tradisional berupa pendidikan dan latihan, ekspresi seni, dokumentasi, penelitian dan pengkajian keilmuan.

Indra Tranggono, Pemerhati Kebudayaan
Sumber Media Cetak : Kedaulatan Rakyat, 16 November 2013, Halaman 14

This entry was posted in News and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *